Perang Dunia III di Depan Mata

Greenland, pulau terbesar di dunia sebagai wilayah dependensi Denmark yang otonom dengan pemerintahan dan parlemennya sendiri. Fofo: BBC

Share

Oleh: Saiful Huda Ems

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump semakin stres. Greenland milik Denmark mau dicaplok dengan alasan kalau pulau tersebut tidak dimiliki AS, maka berpotensi diokupasi oleh Rusia dan China.

Menyadari bahaya itu, Denmark mulai mengerahkan persenjataan modern untuk mengamankan Greenland dari pencaplokan, meskipun sebenarnya modus yang diembuskan adalah mau dibeli oleh negeri Paman Sam itu secara paksa.

Tindakan AS di bawah kepemimpinan Trump ini memang sangat membahayakan. Alasannya, sebab dapat memicu ketegangan politik dan militer di kawasan Eropa. Padahal negara-negara di Eropa yang selama ini bersekutu dengan Amerika,

Namun kali ini mereka bersumpah untuk mengambil tindakan tegas dengan menyerang AS, jika masih nekat mau mengambil alih Pulau Greenland.

pre

Amerika Serikat semakin hari semakin menunjukkan arogansinya, setelah menculik Presiden Venezuela dan istrinya. Ini sama saja AS telah menginjak-injak kedaulatan negara Venezuela. Amerika bahkan sudah tidak lagi menghormati hukum internasional.

Tak hanya sampai di situ, pasukan Amerika Serikat juga telah menyita kapal tanker Marinera milik Rusia yang mengangkut minyak. Kapal tanker Marinera yang berbendera Rusia itu disergap dan disita oleh pasukan AS di perairan internasional barat laut Skotlandia, setelah dikejar sejak dari Laut Karibia.

Baca Juga  Fakta Sejarah: Amerika Serikat Negara Proteksionisme, bukan 'Free-Trade'

Pemerintah Rusia menyatakan, bahwa tindakan Amerika yang telah menyita kapal tanker Marinera milik Rusia tersebut, berpotensi memicu krisis internasional dan meningkatkan ketegangan militer-politik di kawasan Euro-Atlantik.

Kemenlu Rusia juga menyebut penyitaan kapal tanker Marinera sebagai tindakan paksa yang melanggar Hukum Maritim Internasional.

Tindakan AS tersebut mengakibatkan Rusia marah dan segera mengirimkan pesawat-pesawat tempurnya yang terbang rendah di atas kapal Amerika.

Pun demikian halnya dengan China, telah mengirim pesawat-pesawat tempurnya untuk mengawal kapal tanker miliknya yang membawa minyak, dan membuat Amerika berpikir berkali-kali untuk menyita kapal-kapal tanker milik China, yang membawa minyak dari Venezuela.

Perang Dunia III sudah di depan mata, namun NATO tak lagi kompak bersekutu dengan Amerika Serikat. Ini nantinya akan membuat negara adidaya itu bisa-bisa sendirian dan diserbu oleh kekuatan negara-negara besar seperti Rusia, China, dan Eropa yang tergabung dalam NATO.

Baca Juga  Penelikungan Proses Hukum oleh KPK terhadap Hasto

Pertanyaannya kemudian, dapatkah NATO nantinya bisa bergabung dengan Rusia dan China? Jawabannya: jika alasannya untuk mengoreksi arogansi Amerika dan menjaga stabilitas keamanan negara-negara anggota, NATO tentunya bisa saja bergabung dengan Rusia dan China.

Namun, jika motifnya untuk rebutan pengaruh perdagangan antarkawasan, saya pikir tidak akan semudah itu NATO akan bergabung, membaur dengan Rusia dan China.

Konflik Ukraina dengan Rusia sendiri sampai saat ini masih menjadi batu sandungan untuk persekutuan NATO dengan Rusia.

Sampai-sampai, ibaratnya jika saja ada satu rudal Rusia yang menyasar ke negara-negara Eropa yang tergabung dalam NATO, dan itu sengaja dilakukan oleh Rusia, hal itu tentu akan dapat berubah menjadi perang NATO versus Rusia secara terbuka.

Baca Juga  Jokowi Ganggu Praperadilan Hasto Lewat Lembaga Survei Langganan

Padahal Ukraina sampai hari ini bukanlah anggota dari NATO.

Karenanya tidak heran apabila saat ini di beberapa negara-negara Eropa yang tergabung dalam NATO, seperti Belanda sudah kerap terdengar alarm yang berbunyi kencang, untuk menandai latihan perlindungan warga negaranya dari ancaman perang atau serangan mendadak, Perang Dunia III.

Perang Dunia I dan II berpusat di Berlin Jerman, demikian pula Perang Dunia III nantinya, juga akan berpusat di Berlin Jerman. Kenapa bisa demikian, meskipun Berlin kerap dijadikan tempat pertemuan-pertemuan penting antar negara sesama anggota NATO, bukankah Berlin atau Jerman saat ini adem-adem saja?

Ya, meskipun Jerman saat ini adem-adem saja, namun ketahuilah, Jerman adalah gudangnya ideolog, kaum revolusioner, yang produk-produk pemikiran kritisnya kerap mengguncang dunia.

Di negeri ini bayangan debu mesiu Perang Dunia I dan II, sepertinya tidak mudah hilang dari ingatan, karenanya jiwa perang masih melekat kuat pada bangsa ini.

 

*Lawyer dan analis politik

Share

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *